Panasea Islam

 

Jika Islam dibawa untuk membenarkan penipuan, perampokan,
cuci otak, perkosaan, terror dn maker, apakah agama sempurna ini tepat
dijadikan rujukan nilai atau sekedar diatas namakan untuk segala kepentingan yg
palsu? Paradoks lain, mengapa dan ataspaham kemanusiaan apa para pemimpin
Negara adidaya merasa berhak menyerbu dn membunuhi bangsa lain dgn penuh
percaya diri ?

Agama, keberagamaan, dan paham kemanusiaan apapun yg
dianut umat Islam dimuka bumi ini pantas untuk memperoleh gugatan kritis,
ketika nilai-nilai utma yg dianut sepenuh keyakinan justru melahirkan
tindakan-tindakan antagonis yg membuahkan nestapa. Atas nama Tuhan dn agama.
Sebagian orang melakukan tindakan nista trhadap sesama. Atas nama demokrasi dn
hak asasi manusia, justru membinasakan bangsa lain dgn angkuh dn sukacita.

Tatkala Islam disalahgunakan, manakala praktik
agama-agama tak melahirkan keutamaan hidup, bahkan tatkla demokrasi, humanism,
dn ideolagi-ideologi dunia yg diidealisasikan, justru tidak melahirkan
pencerahan, bahkan sebaliknya malah membuahkan bnyak  perilaku dusta dn nista. Lalu, untuk apa
semua nilai luhur itu dianut dn dijadikan sandaran? Malah sebliknya menjadi
biasdn paradox, yg menjadikan nilai-nilai luhur itu sebagai cibiran org karena
perilaku pemeluknya yg naïf dn pandir.

Oase Islam 

Islam itu sejatinya sebagai din al-tanwir, agama
yg mencerahkan kehidupan, Islam bermakna damai, pasrah, dn selamat. Islam
sungguh agma pembawa risalah perdamaian, keselamatan, dn kebahagiaan hidup umat
manusia. Islam agama yg mengajarkan keseimbangan hidup manusia antara
nilai-nilai rohani dn materi, ketuhanan dn kemanusiaan, serta dunia dn akhirat.
Inilah oase Islam paling hakiki dn autentik. Tidak ada agama yg demikian
lengkap mengajarakan nilai-nilai utama seperti keadilan, kebaikan, kebenaran,
kejujuran, kehormatan, kemajuan, dn kemashlahatan hidup kecuali kepada Islam.
Inilah agama yg membawa misi rahamatan lil alamin. (QS al-Anbiya:107)

Banyak orang bersaksi tentang keluhuran Islam. Tidak ada
agama yg demikian memikat hati banyak penduduk negri, meskipun pada awal di
jazirah Arab dinista dn disalahpahami oleh bangsa Quraisy. Negus yg beragama
Nasrani dn penguasa Abisinia sungguh heran atas daya tarik agama yg dibawa
Muhammad ini. “agama apa yg membuat tuan-tuan meninggalkan Mekkah, tidak
agama kami,, tidak pula agama lain?” ujar Raja Abisinia ketika meneroima
kaum muslim yg hijrah pertama kali ke negrinya.

Jafar bin Abi Thalib, yg memimpin rombongan muhajirin
memberikan jawaban perincian soal agama hanif ini. Paduka raja, kata
jafar kepada Negus, pada awalnya kami adalah masyarakat bodoh, penyembah
berhala, bangkai pun kami makan, segala kejahatan dilakukan, memutus hubungan
dgn kerbat dn tetangga, dn yg kuat menindas yg lemah. Lalu, dtang seorang Rasul
dri kalangan kami yg jelas asal-uslnya, orngnya jujur, dpt dipercaya dn bersih
hati. Muhammad mengajarkan kepada kami untuk hanya menyembah kepada Allah SWT
dn meninggalkn berhalawarisan nenek moyang kami.

Rasul yg
terpecaya itu, lanjut Jafar, mengajarkn kami untuk jujur dn tidak berdusta.
Mempertaautkn hubungan baik dgn kerbat dn tetangga. Melarang kami berbuta sgala
kejahatan. Melarang kami memakan harta anak yatim. Menganjurkan kami berbuat
baik trhdap perempuan dn menjaga kehormatannya. Disuruhnya kami mengerjakan
shalat, membyar zakat dn berpuasa. Kami membenarkan segala ajaran yg dibawanya
dn mengikuti jejaknya. Karena ajaran yg dibawa rasul yg kami kasihi itulah,
lalu kami dianiaya dn dipaksa agar meninggalkn agama ini. Namun kami tetap
teguh bersamanya.

Lalu, jafar diminta menyebitkan satu ayat Tuhan yg dapat
diperkenalkan kepada Raja Abisnia yg bijak itu. Dibacakanlah ayat Alquran
(19;29-33) tentang risalah kenabian Isa putra Maryam, yg menunjukkan Islam yg
dibawa Muhammad sbgai mata rantai dgn agama Allah yg diturunkn kepada Nabi
sebelmunya. Penjelasan Jafar tentang agama yg dibawa Muhammad itu membuat Negus
bersipati. Akhirnya, Negus mempersilahkn kaum Muslim untuk tetap tinggal di
Abisinia dgn aman dlm perlindungan Negara, serta tidak menyerahkn ke kaum
Quraisy yg memintanya untuk dideportasi.

Itulah Islam pembawa risalah dmai, kebaikan, dn keutamaan
hidup. Islam sebagai oase kehidupan dn peradaban. Islam yg mengajarkan umatnya
untuk menyelamtkn nyawa manusia dn pantang untuk membunuhnya. Bahkan, terhadap
binatang dn semua makhluk hidup lainnya pun. Agama ini mengajarkan penyelamatan
dan kasih sayang. Nabi SAW bersabda: “kasihilah apa yg ada dibumi, Dia Yang
Ada di langit akan mengasihimu.” (HR AthaThabrani dn Al-Hakim).

Reduksi Pemahaman

Ketika seorang atau sekelompok kecil muslim membenarkan
perampokan, penipiuan, kebohongan, kekerasan, terror dn maker, sesungguhnya
patut dipertanyakn autensititas keislamannya. Pasti ada sesuatu yg slah
meyakini, memahami dn mengmalkn Islam secara autentik, sebagaimana diajarakan
Rasul diakhir zaman itu. Reduksi pemaknaan tentang jihad, nahyu munkar,
kemurnian aqidah, negara Islam dn segala aspek ajaran Islam yg serba
diabsolutkan dn tidak disertai pemahaman yg luas dn menyeluruh, akan membawa
sikap ghulul atau ekstrem dlm beragama.

Islam lantas kehilangan karakter aslinya yg bersifat wasathiyyah,
yakni bersifat moderat. Keberislaman menjadi hilang keseimbangan.
Mengajarkn nahyu munkar tanpa disertai amar m’aruf yg kaya nilai, memandang pihak
lain serba tidak Islami, bahkan dimasukkan dalam ranah sesat dn kafir,
sementara pemikiran dn akhlaq sehari-hari yg jauh panggang dri api, sungguh
sebuah cara yg salah dlm menjalakan agamanya. Kalau berfatwa laksana pepatah,
tiba dimulut dimuntahkn sampai di perut dikembungkan. Keberagamaan menjadi
tidak membuka ruang bagi toleransi, kemudahan, kegembiraan, dn kemashlahatan,
krena demikian keras mempertahankan dogma yg diyakini absolute, tetapi dipahami
secara serpihan.

Memang selalu ada pembenaraan pada setiap tindakan
ekstrim, yakni melawan ekstrimitas lain. Dunia
saat ini memang penuh paradox yg juga ekstrim. Budaya popular serbabebas
dan  jauh dri nilai-nilai keagamaan.
Ketidakadilan, penindasan, dn beragaman bentuk kejahtan berlansung masif. Negara-negara
demokrasi dn pemuja hak asasi manusia malah menindas dn menginvasi bangsa lain
yg berdaulat. Sekulerisasi dn liberalisasi kehidupan hanya menawrkan pesona dlm
dirinya sendiri sambil menegasikan nilai-nilai lain agama, seolah tidak ada
kebenaran lain di luar dirinya. Terror dibalas dgn terror yg lebih massif.

Mekar pula narkisme dlm kehidupan domestik. Manusia
bertindak apa saja boleh. Para wakil rakyat, hanya mewkili diri dn
kepentingannya. Pemerintah tidak lagi menjadi pelayan rakyat.. penegak hukum
bak pagar memakan tanaman. Korupsi besar-besaran dibiarkan dn seakan-akan
memperoleh perlindungan. Mengaku democrat, tetapi perangai politik malah tiran
dn serba mau menang sendiri. Mereka yg berilmu sering bertindak tanpa ilmu,
apalagi menjadi obor pencerah. Sedangkan para pembuat fatwa agama hidup di
menara dogma minus keteladanan, kejujuran, dn kemuliaan hidup yg pantas dijadikan
rujukan.

Paradoks kehidupna yg penuh nifaq itu memancing
sumbu pendek dlm keberagamaan sebagian orang yg terlanjur penjara dlm paham ghulul
(ekstrem) dn serbasempit. Kemarahan atas situasi membuat sebagian orang
membabi-buta dn menawarkan jalan pintas
melalui bom bunuh diri, terorisme, dn ilusi negara Islam yg salah kaprah.
Ajaran islam dipungut yg keras-keras dgn penafsiran sempit, sambil mengabaikan
keluasan Islam. Akhirnya, Islam jauh dari sumber apinya yg autentik sebagai
agama damai, bahkan sebaliknya disalahtafsirkan dn disalahgunkan untuk melakukan
sejumlah kekerasan.

Padahal, Islam tidak menoleransi kekerasan, apalagi
hingga melenyapkan nyawa manusia yg taj bersalah. Pesan Islam sangatlah jelas,
menyelmatkn satu nyawa bererti menyelamtkn seluruh umat manusia. Sebaliknya,
membunuh satu nyawa sama dgn membunuh sekuruh manusia, sungguh agama pembawa
misi damai dn penyelamatan, islam itu agma anti terror dn anti kekerasan.
Karena itu, agama mulia ini jangan dibawa dn diatasnamakan untuk melakukan
tindakan yg merusak kehidupan.

Kita menjadi
tersadar, betapa Nabi akhir zaman mendeklarasikan nilai-nilai universalisme
Islam di pengujung misi kerisalahannya. Di lembah Uranah menyampaikn Khutbah
al-Wada
, yg antara lain menyuarakan pesan; ” wahai saudaraku sekalian,
bahwasnya darahmu dn harta bendamu sekalian suci bagimu, seperti hari ini
dn  bulan ini suci sampai dating masanya
kamu menghadap Tuhan, ketika itu kamu dimnta pertanggung jawaban atas segla
perbuatanmu ? Umat manusia berasal dari sumber yg satu dn keturunan yg satu.
Apakah aku telah menyampaikan kepadamu ?” ujar Nabi.

Para pengikut Nabi SAW, harus mampu menangkap misi luhur
dn mendaur-ulang pesan Khutbah al-Balagh
yg sarat nilai-nilai utama itu kedalam kehidupan kekinian. Jadikan
Islam sebagai penasea kehidupan yg membawa penyelmatan dn kemashlahatan bagi
kehidupan. Islam sebagai obat mujarab yg memberikan solusi mendasar, bukan yg
disalah gunakan dn membuahkan masalah. Islam sebagai rahmat yg mencerahkan dn
menyelamatkan semesta kehidupan.   

Wa Allahu A’lam bi Shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: