Tanpa Nabi Muhammad Dunia Tak Tercipta (palsu)

Assalamu ‘alaikum,

Saya selalu ikut pengajian ustadz tiap malam Kamis, ada sebuah pertanyaan yang belum sempat ustadz jawab kemarin.

Ada seorang kiyai dalam pidato sambutan maulid nabi menyampaikan sebuah ungkapan yang dibilang sebuah hadits nabi. Kira-kira bunyinya begini:

Laulaaka ya Muhammad, ma khalktul falak

Seandainya bukan karenamu ya Muhammad, Aku tidak ciptakan falak.

Saya agak ragu dengan apa yang disampaikannya sebagai hadits nabi. karena itu saya ingin jawaban dari ustadz, benarkah lafadz itu benar-benar hadits nabi, kalau benar, apakah shahih, hasan atau dhaif.

Begitu dulu ustadz, semoga bisa segera dapat jawabannya.

Wassalam

H M Sani Napis
sani_beong@yahoo.co.id
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Lafadz itu memang seringkali kita dengar, terutama kalau pas lagi musim maulid seperti ini. Banyak kiyai, ustadz, tuan guru, ajengan dan penceramah yang mengutip lafadz itu. Dan tidak jarang dengan santainya mereka bilang bahwa itu adalah hadits nabi.

Sayangnya, mereka tidak pernah menjelaskan dari mana mengutip lafadz yang dibilangnya sebagai hadits itu. Apa nama kitabnya dan siapa perawinya, boleh dibilang tidak pernah disampaikan. Pokoknya dulu gurunya mengajarkan seperti itu, ya terus disampaikan saja.

Ternyata…

Ternyata hadits yanganda tanyakan itumemang hadits yang palsu, setidaknya itulah yang dikatakan oleh guru besar ilmu hadits, Ustadz KH. Prof. Ali Ya’qub, MA. Beliau ini boleh dibilang ahlinya di bidang kritik hadits, pernah nyantri di Tebu Ireng Jombang.

Beliau ini100% asli warga Nahdliyyin, bahkan menjadi pengurus di PBNU, selain juga di Majelis Ulama Indonesia dan kini menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal.

Namun beliau pernah nyantri dan berguru kepada para ahli hadits di Timur Tengah, sehingga punya kaffah ilmiyah yang sangat jarang dimiliki oleh para kiyailainnya di negeri kita tercinta ini.

Dalam tulisannya, ustadz yang dipuji habis oleh Dr. Syafi’i Ma’arif, pimpinan Muhammadiyah ini bilang, hadits ini bukan hanya palsu tapisangat palsu. (Lihat buku beliau Hadits-hadits Nabi yang Bermasalah, 2006).

Bukan berarti kita tidak mau memuliakan nabi Besar Muhammad SAW, namun harus dibedakan antara menggunakan hadits yang bukan bersumber dari diri beliau SAW dengan niat untuk memuliakan nabi akhir zaman itu.

Ini memang salah satu bentuk kekurangan pengajaran agama di tengah masyarakat kita di Indonesia. Khususnya dalam pelajaran ilmu kritik hadits. Boleh dibilang bahwa di cabang ilmu yang satu ini sangat kita sangat lemah.

Apa boleh buat, kita akui saja memang demikian, tapi ke depan memang kita harus banyak berbenah dan belajar lebih dalam. Wabil khusus tentang ilmu kritik hadits.

Dan memang hadits-hadits lemah dan palsu seperti itu justru, sayangnya, banyak tersebar di tengah kitab-kitab ‘kuning’ yang kita pakai di majelis-majelis taklim atau pondok pesantren.

Mungkin niat awalnya mulia, yaitu untuk mencari fadhailul a’mal (keutaman amal). Dan buat orang awam di pedesaan yang tenaganya sudah habis di ladang bekerja seharian, tidak ada urusan dengan keshahihan hadits. Pokoknya kalau kiayi, ajengan atau tuan guru yang bilang, diterima saja apa adanya.

Namun ketika semangat mencari ilmu agama sudah semakin serius, sehingga banyak sudah pergi berlayar ke Makkah dan muqim di sana, atau sampai ke pusat ilmu di Al-Azhar Mesir, maka semakin banyak umat Islam yang semakin melek dengan berbagai cabang ilmu agama.

Kitab kuning yang dahulu ditulis secara tergesa-gesa oleh para kiyai seabad dua abad yang lalu, oleh para ulama generasi sekarang yang sudah lebih luas pemahamannya, kemudian ditahkik dan diteliti hadits-haditsnya. Adakah hadits itu shahih, hasan atau dhaif.

Kalau anda perhatikan kitab-kitab kuning yang terbit di masa sekarang ini, banyak yang hadits-haditsnya sudah ditahkik. Sehingga ketika akan semakin jelas dan ketahuan bagaimana status haditsnya.

Lafadz Hadits

Lafadz yang dimaksud itu adalah demikian:

لولاك يا محمدما خلقت الأفلاك

Kalau bukan karena engkau wahai Muhammad, maka Aku (Allah) tidak akan menciptakan alam semesta ini.

Sebenarnya lafadz ini merupakan bagian akhir dari sebuah lafadz yang panjang, yang mengisahkan tentang bagaimana Allah SWT meninggikan derajat nabi Muhammad SAW di bandingkan dengan derajat nabi yang lain.

Lengkapnya teksnya dalam bahasa Indonesia seperti ini:

Dari Salman Alfarisiy ketika berasa di suatu tempat sebersama Nabi SAW, tiba-tiba datang seorang laki-laki baduwi yang berwatak keras. Dia yang tidak beralas kaki itu setelah mengucapkan salam bertanya kepada Rasulullah SAW, “Mana di antara kalian yang bernama Muhammad Rasulullah?” Nabi SAW pun menjawab, “Saya.”

Baduwi itu berkata lagi, “Saya telah beriman kepadamu sebelum saya melihat kamu. Saya juga mencintai kamu sebelum bertemu dengan kamu. Saya juga membenarkan kamu sebelum saya melihat wajahmu. Saya hanya ingin bertanya beberapa hal.” “Silahkan bertanya apa yang kamu kehendaki”, sambut Nabi SAW.

“Bukankah Allah telah bercakap-cakap langsung kepada Nabi Musa?”, tanyanya. “Benar”, jawab Nabi. “Dan Allah juga telah menciptakan Nabi Isa dari Ruhul Qudus?”, tanyanya lagi. “Ya, benar”, jawab Nabi. “Bukankah Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya seta Adam menjadi pilihan-Nya.” “Ya, benar”, jawab Nabi lagi.

“Kalau demikian, apa keistimewaan kamu?”, kata si Baduwi.

Nabi terdiam tidak menjawab dan menundukkan kepala. Saat itu Jibril turun kepada Nabi SAW dan berkata, “Allah SWT mengucapkan salam kepadamu, Dia menanyakan kamu tentang hal-hal di mana Dia lebih tahu dari pada kamu. Kenapa kamu menunduk, angkatlah kepalamu dan jawablah kepada orang Baduwi itu.”

“Apa yang dapat aku katakan kepadanya wahai Jibril?”, tanya Nabi.

“Allah SWT berfirman, “Bila Aku telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Ku, maka sebelumnya Aku telah menjadikan kamu sebagai kesayangan-Ku.”

“Apabila Aku telah berbicara langusng kepada Musa di bumi, maka Aku telah berbicara langsung denganmu di langit. Langit tentu lebih utama dari bumi.”

“Apabila telah menciptakan Isa dari ruhul qudus, maka Aku telah menciptakan namamu 200 tahun sebelum Aku menciptakanmu. Di langit Aku telah menyiapkan tempat yang tidak pernah disentuh oleh orang lain dan akan disentuh oleh siapa pun selain kamu.”

“Apabila Aku telah memilih Adam, maka Aku telah menjadikan kamu sebagai pamungkas dari para Nabi. Aku telah menciptakan 124.000 nabi dan Aku tidak menciptakan makhluq yang lebih mulia darimu. Aku telah memberikan kepadamu haudh (telaga), syafa’at, unta, tongkat, mizan, wajah yang bersinar bagai rembulan, ketampanan, mahkota, tongkat besar, haji, umrah, Al-Quran, keutaman Ramadhan, dan syafaat seluruhnya untuk kamu.”

“Sampai naungan Asyr-ku pada hari kiamat memanjang di atas kepalamu, dan mahkota kerajaan pada hari itu bertengger juga di atas kepalamu. Aku selalu membersamakan namamu dengan nama-Ku, sehingga Aku tidak pernah disebut kecuali disebut juga namamu.”

“Aku juga menciptakan dunia dan penghuninya untuk kuperkenalkan kepada mereka tentang kemuliaan dan kedudukanmu di sisi-Ku.

“Dan seandainya bukan karena kamu wahai Muhammad, tidak Aku ciptakan alam semesta ini.”

Pendapat Ulama Kritik Hadits

Para ulama ahli kritik hadits nyaris semua sepakat memasukkan apa yang dibilang sebagai hadits ini ke dalam kitab-kitab yang khusus ditulis sebagai daftar hadits palsu. Artinya, para ulama itu memastikan bahwa lafadz yang dianggap sebagai hadits itu ternyata sama sekali bukan hadits nabi.

1. Salah satu kitab yang khusus disusun untuk mengumpulkan hadits palsu adalah kitab yang diberi nama Al-Maudh’at Al-Kubra. Kitab ini terbitan Daarul Kutub Al- -‘Ilmiyah cetakan tahun 1995, Beirut jilid 1 halaman 312-314. Kitab ini disusun oleh seorang ahli hadits besar bernama Imam Ibnul Jauzi. Beliau asalnya menukil dari penjelasan ahli hadits senior lainnya yang bernama Ibnu Asakir.

2. Pada kitab lainnya yang juga secara khusus yang berisi dafatar hadits palsu, All-La’ali Al-Mashnu’ah fil Ahaditsil Maudhuah, hadits ini juga ternyata juga terdapat. Kitab ini disusun oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Kitab ini dicetak oleh penerbit Darul Makrifah Beirut jilid 1 halaman 271-272.

3. Kepastian bahwa hadits ini benar-benar palsu juga dikuatkan dari terdapatnya hadits ini dalam kitab khusus lainnya yang juga berisi daftar hadits palsu. Kitab itu berjudul Tanzihus- Syariah Al-Marfu’ah ‘anil Ahaditsil Maudhu’ah, yang disusun oleh Ibn ‘Iraq Al-Kanani. Kitab ini juga diterbitkan oleh Daarul Kutub Al- -‘Ilmiyah cetakan tahun 1981, Beirut jilid 1 halaman 324-325.

4. Terakhir, Syeikh Nashiruddin Al-Albani juga menuliskannya di kitabnya, Silsilah Al-Ahadits Adh-dha’ifah wal Maudhu’ah, diterbitkan oleh Al-Maktab Al-Islami Beirut jilid 1 halaman 209-300.

Dasar Kritik Hadits
Kalau di atas hanya merupakan kesimpulan akhirnya, mungkin Anda tetap bertanya, kok bisa dibilang palsu, memangnya kenapa? Apa saja hal-hal yang membuat hadits ini menjadi hadits palsu, bahkan sangat-sangat palsu?

Jawabannya ada pada perawi, yaitu orang yang meriwayatkan lafadz ini. Ternyata tiga orang yang menjadi perawi atas hadits ini benar-benar orang yang sangat bermasalah. Mereka itu adalah:

– Abu As-Sikkin Muhammad bin Isa bin Hayyan Al-Madani.

Imam Ad-Daruquthuni mengatakan bahwa Abu As-Sikkin ini adalah periwayat yang lemah (dhaif).

– Ibrahim bin Al-Yasa’.

Para ahli hadits sepakat mengatakan bahwa orang ini matruk (dituduh berdusta ketika meriwayatkan hadits karena perilaku sehari-harinya suka berdusta).

– Yahya Al-Bashri.

Selain para ulama hadits menyatakannya sama dengan Ibrahim, yaitu matruk, oleh Imam Al-Fallas mengatakan bahwa orang ini adalah pendusta (kadzdzab) yang selalu menyebarkan hadits-hadits palsu. Dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa dirinya selalu membakar hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Yahya Al-Bashri.

Saran

Kalau anda sudah tahu bahwa hadits ini palsu, memang ada baiknya untuk disampaikan kepada sesama umat Islam. Tapi saran kami, upayakan bicaranya hati-hati dan perlahan-lahan. Jangan sampai pak Kiyai jadi tersinggung.

Sebab boleh jadi beliau sudah terbiasa ceramah di mana-mana dengan membawakan hadits ini. Lalu tiba-tiba ada ‘anak kecil’ sok tahu yang mengkritiknya. Mungkin tujuan kita baik, yaitu mengingatkan bahwa haditsi itu palsu, tapi rasanya kurang etis juga kalau sampai harus dengan cara sok tahu, arogan dan menyepelekan.

Sebab biar bagaimana pun para kiyai itu juga sudah berjasa banyak mengisi pengajian dan membimbing umat. Tidak ada salahnya menyampaikan masalah ini lewat kiyai yang lebih senior lagi, biar beliau tidak tersinggung. Kalau santrinya yang menyampaikan, mungkin beliau akan merasa dikecilkan dan disepelekan. Tapi kalau kiyai yang jauh lebih senior yang bilang, insya Allah hatinya akan lebih bisa menerima.

Syukur kalau anda bisa mempelopori biar bisa mengundang kiyai Ali Mustafa Ya’qub itu, baik dalam acara mulidan atau seremoni lainnya. Minta beliau ceramah dan menyampaikan masalah ini. Beliau kan orang NU, biasanya lebih mudah diterima di kalangan Nahdhiyyin. Intinya, kita ingin pesannya sampai, tapi tanpa harus menimbulkan ketegangan dan ketersinggungan.

Ibarat mengail ikan di kali, dapat ikannya tapi airnya tidak sampai keruh. Susah susah gampang sih, ya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: