Hubungan Kakak Ipar dan Sepupu Dalam

Kamis, 31 Jan 08 12:14 WIB

Kirim teman

Assalammu’alaikum wr. wb

Ustad, sepengetahuan saya seseorang itu dinyatakan mahram dengan 3 sebab, karena pernikahan, karena sesusuan, dan karena hubungan darah. Jika demikian, status ipar apakah mahram bagi saya? Karena hal ini menyangkut kebolehan membuka sebagian aurat bagi mahramnya.

Bagaimana dengan saudara sepupu, di dalam istilah jawa di kenal, saudara sepupu luar dan saudara sepupu dalam. hal ini mengacu pada jenis kelamin saudara kandung. semisal, ayah dengan adiknya yang laki-laki kemudian memiliki anak wanita. maka anak wanita ini adalah sesusuan dalam bagi saya (laki-laki ). dan termasuk mahram. Apakah benar?

Mohon di jawab.

Jazzakumulloh khoiron

Wassalammu’alaikum wr.wb

Muhammad Abdi
algren_n@yahoo.com
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tiga sebab kemahraman itu sebenarnya kemahraman yang termasuk kategori mahram muabbad, maksudnya mahram yang bersifat selama-lamamnya. Dengan istilah itu, maka efek hukumnya selain haram terjadinya pernikahan, juga dibolehkan terlihatnya sebagian aurat, berkhalwat, sentuhan kulit, berpergiandan lainnya.

Di luar istilah mahram muabbad, ada istilah lain lagi, yaitu mahram muaqqat. Mahram jenis ini punya konsekuensi hukumterbatas, yaitu sekedar tidak boleh terjadinya pernikahan. Sedangkan kebolehan terlihat sebagian aurat, berkhalwat, sentuhan dan bepergian, tetap terlarang, haram dan tidak boleh.

Nah, saudara ipar termasuk kelompok yang kedua ini, yaitu haram dinikahi sementara, dan tetap haram berduaan dan seterusnya.

Saudara ipar termasuk orang yang haram dinikahi dengan dalil firman Allah SWT:

وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إَلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ

Dan menghimpunkan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. (QS An-Nisa: 23)

Ayat ini menjelaskan haramnya seorang laki-laki menikahi dua orang wanita kakak beradik dalam satu kurun waktu yang sama. Bila sudah menikahi kakaknya, maka haram menikahi lagi adiknya. Begitu juga sebaliknya, bila sudah menikahi adiknya, maka haram disaat yang sama menikahi kakaknya.

Dan kemahraman ipar itu tetap berkonsekuensi haramnya berduaan (khalwat), tetap mewajibkan untuk menutup aurat (satrul ‘aurah). Bahkan Rasulullah SAW lebih mengharamkan terjadinya hubungan ‘khusus’ antara seorang laki-laki dengan saudara iparnya dengan sebutan “kematian.”

“Jangan kamu sekalian masuk ke dalam (ruang) wanita. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana dengan saudara ipar?”. Rasulullah menjawab, “Saudara ipar adalah kematian” (HR Ahmad, Tirmidzi, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 2677).

Jadi saudara ipar itu termasuk mahram muaqqat (sementara), yaitu haram dinikahi selama saudarinya masih berstatus isteri. Bila saudarinya itu sudah bukan lagi menjadi isteri, mungkin karena meninggal atau cerai, maka mantan ipar itu baru boleh jadi isteri.

Selama masih jadi ipar, maka hubungannya adalah wanita ajnabi, yaitu wanita asing yang haram terlihat auratnya, haram untuk berduaan dan sentuhan kulit.

Kalau mau dikelompokkan, maka ipar ini adalah wanita yang haram dinikahi karena pernikahan, tapi hukumnya bukan sebagaimana wanita mahram lainnya yang boleh terlihat aurat dan seterusnya.

Sepupu Bukan Mahram

Hubungan seorang laki-laki dengan saudara sepupunya yang perempuan, baik statusnya sepupu dalam maupun sepupu luar, semua tidak mengharamkan terjadinya pernikahan di antara mereka.

Dalilnya ada di dalam ayat Al-Quran Al-Kariem:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُّؤْمِنَةً إِن وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَن يَسْتَنكِحَهَا خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu …. (QS. Al-Ahzab: 50)

Semua bentuk hubungan saudara sepupu di dalam ayat ini dihalalkan, yaitu:

1. Seorang laki-laki dibolehkan menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki bapaknya
2. Seorang laki-laki dibolehkan menikahi anak perempuan dari saudara perempuan bapaknya
3. Seorang laki-laki dibolehkan menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya
4. Seorang laki-laki dibolehkan menikahi anak perempuan dari saudara perempuan ibunya

Adapun istilah sepupu dalam dan sepupu luar, tidak dikenal dalam sistem keluarga dalam syariat Islam. Kesimpulannya, semua jenis sepupuhalal untuk dinikahi. Kalau yang anda tanyakan pandangan hukum syariah terhadap sepupu, maka itulah jawabannya.

Tapi kalau anda ingin tetap berpegang pada hukum adat Jawa, terserah anda. Yang jelas, Allah SWT yang Maha Menetapkan hukum itu tidak pernah mengharamkan saudara sepupu untuk dinikahi.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: