Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana tentang hadist qudsi itu, apakah wahyu langsung dari Allah SWT lalu, nabi yang menulis atau gmana, mohon penjelasan

Ah
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hadis qudsi adalah hadis yang oleh Rasulullah SAW disandarkan kepada Allah. Maksudnya, RasulullahSAW meriwayatkannya bahwa itu adalahperkataan Allah. Jadi boleh dibilang bahwa RasulullahSAW menjadi perawi perkataanAllah ini. Sedangkan lafadznya dari redaksibeliau SAW sendiri.

Bila seseorang meriwayatkan hadis qudsi, dia meriwayatkannya dari Allah dengan disandarkan kepada Allah dengan mengatakan, “RasulullahSAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya, ” atau ia mengatakan, “RasulullahSAW bersabda, ‘Allah telah berfirman atau berfirman Allah’.”

Mungkin Anda akan bertanya, lalu apa perbedaan hakiki antara hadits Qudsi dengan Al-Quran? Bukankah keduanya sama-sama wahyu yang datang dari Allah SWT, dua-duanya adalah perkataan Allah. Lalu kenapa harus berbeda?

Untuk menjawab pertanyaan ini, para ulama telah membuat beberapa point perbedaan yang asasi, sehingga kelihatan jelas apa beda antara kedua. Di antara poin-poin itu adalah

1. Lafadz Al-Quran adalah Mukjizat

Alquran adalah perkataan Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW dengan redaksi (lafadz) asli. Rasulullah SAW sama sekali tidak menambahi atau mengomentari apa pun. Jadi kata-kata itu asli sebagaimana adanya.

Kenapa demikian?

Karena ternyata ayat-ayat itu mengandung mukjizat dari Allah SWT. Mukjizatnya berupa keindahan tata bahasanya. Dengan keindahan itu, orang Arab ditantang, tetapi mereka tidak mampu membuat seperti Alquran itu.

Tantangan itu tetap berlaku, karena Alquran adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat. Adapun hadis qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat.

Sedangkan hadits qudsi, meski merupakan perkataan dari Allah juga, namun dari segi bahasa tidak didesain untuk dijadikan mukjizat keindahan bahasa.

2. Baca Quran adalah Ibadah

Perbedaan kedua antara hadits Qudsi dengan Al-Quran adalah lafadz-lafadz di dalam Al-Quran bernilai sakral, sehingga meski tidak tahu artinya, cukup membacanya atau melafadzkannya saja sudahmerupakan ibadah. Tentu bukan berarti kita hanya cukup membacanya saja.

Tapi yang juga perlu diakui adalah bahwa lafadz Al-Quran itu bersifat sakral, sehingga ketika kita melakukan ritual ibadah shalat, lafadz Al-Quran itulah yang kita baca, bukan hadits Qudsi.

“Maka, bacalah apa yang mudah bagimu dalam Alquran itu.” (QS. Al-Muzamil: 20).

Allah SWT menjanjikan bahwa tiap huruf yang diucapkan menghasilkan pahala tersendiri, diluar pahala dari mengerti makna dan isi kandungannya.

“Barang siapa membaca satu huruf dari Alquran, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan, kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR Tirmizi dan Ibnu Mas’ud).

Adapun hadis qudsi tidak disuruh membacanya dalam salat. Allah memberikan pahala membaca hadis qudsi secara umum saja. Maka, membaca hadis qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadis mengenai membaca Alquran bahwa pada setiap huruf mendapatkan sepuluh kebaikan.

3. Al-Quran Diriwayatkan Secara Mutawatir

Yang ketiga kita bedakan antara hadits Qudsi dengan AL-Quran dari segi jalur periwayatan sanad.

Seluruh isi Alquran sampai kepada kita lewat jalur yang mutawatir, sehingga kepastiannya mutlak. As-Suyuthi menjelaskan bahwa riwayat mutawatir itu adalah bahwa di setiap level periwayatan minimal ada sepuluh orang yang meriwayatkan dengan lafadz yang sama persis.

Adapun hadis-hadis qudsi kebanyakan berupa periwayatannya yang terkadang hanya lewat satu orang perawi saja, kadang dua orang, kadang tiga sampai bisa juga sepuluh orang. Tetapi tidak pada semua level periwayatan berjumlah sepuluh orang. Jumlah perawi yang tidak lengkap selalu minimal sepuluh orang ini disebut dengan istilah hadits ahad.

Kalau kita lihat dari sudut pandang kekuatan periwayatan, tentu saja yang mutawatir itu lebih kuat dan mutlak kebenarannya. Sedangkan yang lewat jalur ahad tentu lebih lemah kekuatan periwayatanya.

Sederhananya, hadits Qudsi itu ada yang shahih, tapi bisa juga hasan atau bisa juga dhaif.

Jadi itulah kira-kira perbedaan hakiki antara haditsQudsi dengan Al-Quran, meski keduanya sama-sama wahyu dari Allah SWT juga. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,( her-fal)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: